3 Evaluasi Presiden yang Melengserkan Anies Baswedan

Kemarin tanggal 27 Juli 2016, bangsa Indonesia disuguhkan reshuffle Kabinet Jilid II yang diumumkan langsung oleh presiden Joko Widodo. Hampir semua stasiun TV menyiarkan secara langsung proses reshuffle tersebut. Ada beberapa nama baru yang masuk ke susunan Kabinet tersebut. Baik dari Parpol pendukung maupun dari kalangan profesional.
Berikut daftar menteri baru tersebut:
1. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto
2. Menteri Keuangan Sri Mulyani
3. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sanjoyo
4. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi
5. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy
6. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita
7. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
8. Menteri ESDM Archandra Tahar
9. Menteri PAN dan RB Asman Abnur
10. Menteri Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut Binsar Pandjaitan
11. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil
12. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong
13. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro
Tapi ada satu Menteri yang diganti menggugah hati nurani saya sebagai seorang guru, yakni Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Menurut beberapa kalangan ada 3 kriteria evaluasi Presiden kepada menterinya. Kriteria tersebut adalah evaluasi kinerja, teknis dan politik. Mari kita lihat satu persatu evaluasi tersebut terhadap Anies Baswedan
1. Evaluasi kinerja
Anies Baswedan semenjak dilantik sebagai Menteri Pendidikan, langsung tancap gas bersama dengan seluruh jajarannya di kemendikbud untuk menyelesaikan benang kusut pendidikan Indonesia. Beliau bersama jajarannya meninjau ulang sistem Ujian Nasional yang mempersyaratkan Nilai Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa.
Hal itu menjadi angin segar bagi dunia pendidikan, yang selama ini merasakan betapa “kejamnya” ujian nasional kepada peserta didik. Bagaimana tidak, sekolah yang ada di pegunungan papua yang fasilitas sekolah dan gurunya sangat minim dibanding dengan sekolah yang ada di kota besar, soal Ujian Nasionalnya hampir sama dengan sekolah yang fasilitasnya lengkap. Kondisi ekonomi anak-anak di pedalaman jauh lebih sulit dibanding anak-anak yang ada di kota.
Tentu kualitas pendidikannya berbeda. Apalagi persepsi publik terhadap birokrasi pelayanan publik, PAk Anies Baswedan berada di urutan keenam Sumber : http://nasional.news.viva.co.id/news/read/649419-ini-peringkat-kementerian-terbaik-versi-smrc
2. Evaluasi Teknis
Teknis Pendidikan di Indonesia semenjak Anies Baswedan dirombak besar-besaran. Promosi Jabatan setingkat eselon I dan II dilakukan melalu lelang jabatan.Dirjen kebudayaan diisi oleh Hilmar Farid, dimana beliau satu-satunya Dirjen di Kemendikbud yang bukan PNS. Tapi beliau terpilih sebagai Dirjen Kebudayaan melalui Lelang Jabatan. Ini adalah suatu contoh rekruitmen birokrat yang baik, bukan karena usulan partai atau kepentingan tertentu. Begitupun Dirjen Guru dan tenaga Kependidikan, yang sekarang dijabat oleh Sumarna Surapranata juga melalui Lelang jabatan secara terbuka.
Dulu sebelum pak Anies menjabat, di Kemendikbud terdiri atas beberapa Dirjen, namun sejak Anies baswedan dilantik sebagai Menteri Komposisi tersebut dirombak. Dahulu, kalau guru SD mau mengurus administrasinya harus melalui dirjen dikdas. Sekarang semua urusan administrasi guru baik TK, SD, SMP, SMA dan SMK ditangani hanya oleh satu dirjen yakni Dirjen GTK. Sumber : http://www.kemdikbud.go.id/main/tentang-kemdikbud/struktur-organisasi
3. Evaluasi Politik
Gonjang-ganjing pemilihan presiden 2019 semakin hangat. Partai Golkar yang dulunya berseberangan dengan Pemerintahan Jokowi, sekarang berbaik arah 180 derajat mendukung pemerintahan Jokowi. Bahkan Partai Golkar sudah mengumumkan Jokowi sebagai calon presiden mereka tahun 2019 nanti. Satu lagi partai yang balik haluan mendukung adalah Partai Amanat Nasional (PAN). Bahkan kedua partai pendukung baru tersebut mendapat “jatah” menteri yakni Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dari Golkar dan Menteri PAN dan RB Asman Abnur (PAN).
Selain itu, dukungan Ormas Masyarakat yang besar tentu menjadi pertimbangan politik bagi presiden menyongsong Pilpres. Ada rumor yang berkembang di kalangan Tim Jokowi mengkhawatirkan Anies Baswedan sebagai seorang tokoh yang bisa menyaingi popularitas Jokowi. Bagaimana tidak, Anies Baswedan dengan sepak terjangnya sebagai Mendikbud dan bersentuhan langsung dengan jutaan siswa dan Orang Tua semakin disenangi, karena sering turun langsung ke lapangan (blusukan) melihat sekolah dan ruang-ruang kelas di seluruh pelosok nusantara. Beliau berinteraksi dengan para Guru, siswa dan orang tua meminta masukan tentang dunia pendidikan.

Saya sebagai guru biasa, tidak tahu kriteria apa yang dipakai oleh Presiden Jokowi sehingga Menteri Anies Baswedan dicopot sebagai Menteri Pendidikan. Hanya Tuhan dan Presiden Jokowi yang tahu jawabannya. Salam, Guru biasa yang peduli terhadap Pendidikan.

Pendidikan Karakter ( bag-2)

Lanjutan 18 Jenis Nilai Pembelajaran Karakter Bangsa.

5. Kerja Keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6. Kreatif

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

 

7. Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

 

8. Demokratis

Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

 

9. Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan didengar

 

10. Semangat Kebangsaan

Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

 

11. Cinta Tanah Air

Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik,, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.

 

12. Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain

 

13. Bersahabat / komunikatif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain.

 

14. Cintai Damai

Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

 

15. Gemar membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.

 

16. Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

 

17. Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan

 

18. Tanggung jawab

Sikap dan perilaku sesorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan ( alam,sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Pendidikan Karakter ( Bag-1)

Akhir-akhir ini, marak dibicarakan tentang karakter bangsa baik melalui media cetak maupun media elektronik. Menurut pendapat beberapa ahli mengatakan ” karakter bangsa perlahan-lahan hilang dari bumi Indonesia”. Terminologi ”karakter” itu sendiri sedikitnya memuat dua hal: values (nilai-nilai) dan kepribadian.

Suatu karakter merupakan cerminan dari nilai apa yang melekat dalam sebuah entitas. ”Karakter yang baik” pada gilirannya adalah suatu penampakan dari nilai yang baik pula yang dimiliki oleh orang atau sesuatu, di luar persoalan apakah ”baik” sebagai sesuatu yang ”asli” ataukah sekadar kamuflase.

Dari hal ini, maka kajian pendidikan karakter akan bersentuhan dengan wilayah filsafat moral atau etika yang bersifat universal, seperti kejujuran. Pendidikan karakter sebagai pendidikan nilai menjadikan “upaya eksplisit mengajarkan nilai-nilai, untuk membantu siswa mengembangkan disposisi-disposisi guna bertindak dengan cara-cara yang pasti” (Curriculum Corporation, 2003: 33). Persoalan baik dan buruk, kebajikan-kebajikan, dan keutamaan-keutamaan menjadi aspek penting dalam pendidikan karakter semacam ini.

Ada 18 jenis nilai yang diharapkan dari pembelajaran budaya dan karakter bangsa.

1. Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan

3. Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4.  Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

>>>>>>>>> Bersambung  Bag-2

Back to Kampus

Tak terasa sudah sepuluh tahun yang lalu saya meninggalkan kampus Universitas Negeri Makassar ( UNM) untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di lapangan ( sekolah ). Namun hari ini, minggu tanggal 12 Juni 2011 saya kembali ke kampus untuk menimba ilmu ! Banyak diantara teman dan kawan seperjuangan angkatan 95 bersua kembali. Mereka berasal dari berbagai macam daerah, misalnya sorong, Toraja, Majene, gorontalo, kalimantan dan lain-lain. Rata-rata mereka berprofesi seperti saya yaitu guru. Ada yang mengajar di SD, SMP, SMK dan Perguruan tinggi Swasta. Hari ini, kuliah perdana ( matrikulasi umum) PPs UNM dilaksanakan lantai 5 Gedung PPs UNM yang baru. Walaupun untuk naik ke lantai 5 harus ngos-ngosan, sebab belum ada tangga lift. Para petinggi UNM, mulai dari PR.1, Direktur PPs, Asdir 1 dan Asdir 2, serta Ketua Program Studi Pendidikan Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Ekonomi, Sosiologi, Sejarah, PKLH, Geografi hadir pada kuliah ini. Materi pertama dibawakan oleh Prof. Dr. Suradi, MS ( Asiten Direktur 1 PPs UNM ) mempresentasikan tentang Visi, Misi, tujuan serta kebijakan akademik di PPs UNM. Selanjutnya materi kedua dibawakan oleh Prof. Sofyan Salam, MA, P.hD ( PR. 1 UNM ) membawakan selayang pandang UNM dulu, sekarang dan yang akan datang. Presentasi beliau sangat bagus mengenai gedung Phinisi yang Insya Allah akan difungsikan tahun 2011. Juga tentang gedung baru di Fakultas MIPA dan Fakultas Ekonomi yang sudah ditanda tangani kontrak awalnya. Beliau bercita-cita, gedung di UNM jauh lebih baik dari Hotel Clarion Makassar ( kebetulan gedung PPs bersebelahan dengan hotel Clarion ).Beliau sempat bercanda, ” dimana itu UNM ? disebelah Hotel Clarion”, ke depan orang akan bertanya ” dimana itu Hotel Clarion ? di sebelah UNM “.

Selanjutnya materi ketiga diisi oleh Prof. Dr. H. Heri Tahir, SH, MH. Dalam pemaparannya, beliau membahas tentang fasilitas dan akomodasi yang dimiliki oleh PPs UNM sekarang ini. Dan presentasi terakhir dibawakan langsung Prof. Dr. Jasruddin, M. Si ( Direktur PPs UNM) , mengenai apa, bagaimana dan cara mahasiswa selesai tepat waktu di program PPs UNM. Prof. Jasruddin mengatakan ” kalau mahasiswa S1 yang mencari dosen pembimbingnya, maka di S2 justru dosen pembimbing yang mencari mahasiswa bimbingannya”.

1307870154561558621

Di akhir kuliah perdana ini, panitia menyiapkan kue dan air mineral yang dikemas dalam dos ( kalau tiap hari begini, aku mau rajin kuliah … hehehehe ). Dan kami akan berjumpa lagi di awal kuliah matrikulasi khusus masing-masing program studi. Semoga guru yang kembali ke kampus untuk menimba ilmu, menjadi lebih baik lagi dalam transfer ilmu kepada anak didiknya !

13078703992093155945

Pembelajaran Open Source di Sekolah

P

Dewasa ini teknologi komputer sangat pesat. Fenomena itu ditanggapai oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Kemendiknas RI) dengan memasukkan Mata pelajaran wajib yaitu Tekonologi Informasi dan Komunikasi ( TIK).

Namun di sisi lain, kurikulum TIK  yang diberikan kepada sekolah masih mengacu kepada satu Operating sistem yang berbayar. Belum lagi buku mata pelajaran yang beredar di pasaran mayoritas masih mengacu kepada OS Windows. Hanya sedikit sekali buku yang mengacu kepada Open Source ( contoh yang dikarang oleh Onno W Purbo dkk).

Pembelajaran TIK di sekolah juga menemui kendala dari pihak pimpinan sekolah. Kepala sekolah akan heran jika guru TIK mengacu kepada Sistem Operasi Open Source, seperti Ubuntu, Linux Mint dan lain-lain. Ditambah lagi, siswa yang kebetulan punya komputer / laptop di rumahnya, 99,99 % OS nya Windows. Mereka akan protes, sebab apa yang selama ini dia gunakan berbeda dengan yang diajarkan di sekolah.

Padahal sebenarnya, di negara-negara eropa, pembelajaran TIK mereka tidak mengacu kepada OS tertentu. Sebab apabila kita hanya bergantung pada satu OS saja, maka devisa negara akan disedot oleh Microsoft. Belum lagi OS Windows tersebut sifatnya tertutup, sehingga kita tidak bisa melihat kode programnya. Beda dengan Linux misalnya, kode program itu bisa di lihat, di ubah dan ditambah. Hal ini berdampak positif bagi siswa, sebab mereka akan berkreatifitas dan berinovasi. Olehnya itu ke depan seharusnya pemerintah dalam hal ini Kemendiknas harus membuat kurikulum TIK yang berbasis Open Source, lalu melatih guru untuk menggunakan Open Source (Linux ) tersebut.

1294792331636616400

Jika pembelajaran berbasis Open Source marak di sekolah, maka akan muncul SDM indonesia yang sanggup bersaing dengan negara lain. Belum lagi devisa negara yang tidak keluar, karena OS Open Source (contohnya Distro Ubuntu) gratis. Uang tersebut bisa dipakai untuk melatih guru-guru menggunakan Sistem Operasi Terbuka. Betapa indahnya dunia pendidikan Indonesia jika menggunakan sistem operasi terbuka  ( Open Source ).

Pelatihan Evaluasi Diri Sekolah ( EDS )

Selama 2 hari mulai tanggal 3-4 Desember bertempat di Hotel Mercure Makassar diadakan Pelatihan Evaluasi Diri Sekolah ( EDS ) yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional Pusat. Pelatihan ini diikuti oleh 220 sekolah se Sulawesi selatan.

Pelatihan EDS